MALINAU, siagasatu.co.id — Akses transportasi masyarakat Kecamatan Pujungan, Kabupaten Malinau, sempat terputus akibat longsor yang memicu terbentuknya giram baru di Sungai Bahau. Menanggapi laporan warga, Bupati Malinau Wempi W. Mawa segera berkoordinasi dengan Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Rudy Rachmat Nugraha untuk mengerahkan tim gabungan TNI, BPBD, dan Pemkab Malinau guna menormalkan alur sungai.
Kondisi darurat tersebut pertama kali dilaporkan warga kepada Bupati Wempi W. Mawa, S.E., M.H. Bupati kemudian menghubungi Pangdam VI/Mulawarman, Mayjen TNI Rudy Rachmat Nugraha, S.I.P., M.Sc., yang langsung menugaskan Yonzipur 17/Ananta Dharma bekerja sama dengan Kodim 0910/Malinau di bawah komando Letkol Inf M. Syaiful Arif, S.I.P. Tim Yonzipur dipimpin Lettu Czi Gustav Salettia.
Baca Juga: Bupati Wempi Lepas Peserta Jalan Sehat Peringatan Harhubnas 2025
Pada 12 September 2025, Dandim 0910/Malinau menggelar rapat koordinasi bersama Pemerintah Kabupaten Malinau, BPBD, dan sejumlah instansi terkait untuk mematangkan rencana operasi. Keesokan harinya, 13 September, apel pasukan digelar dengan kekuatan lima personel Kodim 0910/Malinau, 14 personel BPBD, dan tujuh prajurit Yonzipur 17. Dari Malinau, rombongan bergerak menuju Desa Long Lejo, Kecamatan Peso, Kabupaten Bulungan, sebelum melanjutkan perjalanan sungai ke lokasi sasaran.
Kedatangan tim gabungan disambut hangat masyarakat Pujungan dan Bahau Hulu yang mendukung penuh upaya pemulihan alur sungai. Setelah menempuh perjalanan panjang, tim tiba di lokasi pada sore hari.
Pada 14 September, tim Yonzipur melakukan peninjauan awal. Namun debit air Sungai Bahau yang tinggi membuat pemeriksaan detail tertunda. Pemeriksaan lanjutan baru dapat dilakukan pada 16 September dan menemukan 10 batu besar yang harus diledakkan untuk melancarkan aliran sungai.
Sehari kemudian, 17 September, tim mulai melakukan persiapan teknis, termasuk pembersihan area, pembangunan jembatan darurat, pemasangan tali pengaman, serta pengeboran batu. Puncak operasi berlangsung pada 18 September pagi, ketika dua batu besar berukuran tujuh meter dan empat meter berhasil diledakkan. Proses dilanjutkan pada 19 September sore dengan peledakan satu batu besar lagi. Hingga kini, tiga dari sepuluh batu target telah berhasil dihancurkan.
Meski operasi berjalan lancar, tantangan di lapangan tidak ringan. Curah hujan tinggi membuat debit Sungai Bahau sewaktu-waktu meningkat, sementara medan curam dan licin menguji ketangguhan personel gabungan.
Operasi pemulihan alur Sungai Bahau masih terus dilanjutkan hingga seluruh batu besar berhasil diledakkan. Sinergi antara Pemerintah Kabupaten Malinau, TNI, BPBD, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan demi mengembalikan kelancaran transportasi warga Pujungan dan Bahau Hulu.® (SAS)









































