TANJUNG SELOR, siagasatu.co.id — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) memperkuat peran strategis perempuan dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui sektor perhutanan sosial, sekaligus mendukung pengentasan kemiskinan dan penurunan stunting.
Komitmen ini ditandai dengan pembukaan Lokakarya Pengelolaan dan Penguatan Ekonomi Komunitas Berbasis Perempuan di Perhutanan Sosial yang digelar di Ballroom Hotel Luminor, Selasa (21/4), bertepatan dengan peringatan Hari Kartini.
Baca Juga: Kolaborasi CSR, Gubernur Ajak Perusahaan Bangun Kaltara
Mewakili Gubernur Kaltara, Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Hubungan Antar Lembaga, Ir. Wahyuni Nuzband, M.A.P., membuka kegiatan tersebut secara resmi.
Wahyuni menegaskan bahwa perempuan memiliki peran penting sebagai penggerak ekonomi komunitas, khususnya di kawasan perhutanan sosial.
Ia menyebutkan, Pemprov Kaltara telah melakukan langkah konkret melalui kolaborasi dengan berbagai mitra dalam menginkubasi Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) di sejumlah wilayah, seperti Desa Antutan, Long Sam, dan Long Beluah.
“Ini menjadi fondasi untuk membangun ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Wahyuni.
Wahyuni menjelaskan, perempuan di sekitar hutan telah mampu mengolah hasil hutan bukan kayu menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, seperti tas rotan, cokelat, hingga selai.
“Produk-produk ini menunjukkan perempuan bisa menjadi penggerak ekonomi keluarga,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan ekonomi perempuan juga memberikan dampak luas terhadap program strategis pemerintah, termasuk percepatan penurunan stunting dan pengentasan kemiskinan ekstrem di wilayah perdesaan dan perbatasan.
Ia menambahkan, Pemprov Kaltara terus mendorong akses perempuan terhadap pembiayaan, pasar, teknologi tepat guna, serta peningkatan kapasitas agar mampu naik kelas sebagai pelaku usaha mandiri.
Selain itu, kolaborasi dengan berbagai pihak juga terus diperkuat, termasuk rencana pembinaan oleh Yayasan Pionir di 10 desa sebagai proyek percontohan, serta kerja sama dengan Environmental Bamboo Foundation dalam mendorong dukungan pendanaan melalui CSR.
Momentum Hari Kartini, lanjutnya, harus dimaknai sebagai dorongan untuk aksi nyata.
Oleh karena itu, Wahyuni menyerukan semboyan “Habis Gelap Terbitlah Terang” harus diterjemahkan sebagai semangat keberanian perempuan untuk berdaya secara ekonomi.
“Perempuan harus berani mandiri, menunjukkan kemampuan, dan berkontribusi bagi pembangunan daerah,” tegasnya.
Ia juga mendorong perempuan Kaltara untuk aktif mengambil peran di berbagai sektor, baik ekonomi maupun pemerintahan, dengan mengedepankan kompetensi dan profesionalisme.
“Harapan saya untuk perempuan Kaltara, mari kita cerdas, mandiri dan berkarya untuk daerah yang kita cintai ini,” pungkasnya.® (dkisp)









































