MALINAU, siagasatu.co.id — Jauh di wilayah perbatasan Kalimantan Utara, di tengah tantangan akses dan keterbatasan, tumbuh sebuah semangat yang sederhana namun kuat. menghadirkan masa depan yang lebih baik melalui literasi.
Semangat itu dibawa Kabupaten Malinau dalam gelar wicara nasional bertajuk “Cerita dari Perbatasan Indonesia di Malinau: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi” yang digelar oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bersama INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia), program kemitraan Australia–Indonesia di bidang pendidikan.
Kegiatan yang berlangsung di Jakarta tersebut menghadirkan Bunda Literasi Kabupaten Malinau, Ny. Maylenty Wempi, bersama para pejuang literasi dari Malinau yang selama ini bergerak langsung di tengah masyarakat.
Baca Juga: Rapat Anggota Tahunan (RAT) 2024-2025, Sekda Ernes Dorong Digitalisasi Koprasi PNS Mafit Jaya
Mereka adalah Ketua Ikatan Keluarga Baca Malinau (IKBM) Belvi, pegiat literasi TBM Lasan Baca Zsa Zsa Suhartiningtyas, serta Kepala Desa Kuala Lapang Yeyen Meiasim. Hadir pula Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, dengan moderator Sekarsari Utami dari RRI.
Bagi Ny. Maylenty Wempi, literasi bukan sekadar membaca dan menulis. Literasi adalah harapan, tentang anak-anak di perbatasan yang berani bermimpi lebih tinggi, tentang keluarga yang mulai mencintai buku, dan tentang masyarakat yang percaya bahwa pendidikan bisa mengubah masa depan.
Dengan semangat itu, Ny. Maylenty terus mendorong agar literasi menjadi gerakan bersama yang benar-benar hidup dan memberi dampak nyata bagi masyarakat Malinau.
Dalam gelar wicara tersebut juga disampaikan bahwa literasi yang berkelanjutan membutuhkan kolaborasi lintas aktor. Pemerintah, sekolah, keluarga, komunitas, desa, mitra pembangunan, penulis, penerbit, pustakawan, hingga pegiat literasi perlu bergerak bersama agar budaya membaca dapat tumbuh kuat dan berkelanjutan.
Malinau juga dinilai berhasil menunjukkan bahwa keterbatasan geografis dapat diubah menjadi kekuatan. Tantangan wilayah perbatasan justru melahirkan berbagai inovasi layanan literasi yang dekat dengan masyarakat dan sesuai dengan kebutuhan daerah
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menyatakan bahwa Kabupaten Malinau menunjukkan kekuatan signifikan dalam penguatan literasi, khususnya sebagai wilayah perbatasan yang terus berkembang.
Kontribusi Malinau turut mendorong capaian indeks kegemaran membaca di Kalimantan Utara yang mencapai 58,89, melampaui rata-rata nasional sebesar 54,8, dan mencerminkan budaya baca yang semakin kuat.
Dukungan program pemerintah, seperti distribusi buku, pembinaan komunitas literasi, serta pemanfaatan platform digital, telah memperluas akses pembelajaran masyarakat.
Pendekatan yang diterapkan di Malinau juga dinilai berpotensi menjadi model yang dapat direplikasi oleh daerah lain secara kontekstual, dengan menyesuaikan kondisi sosial, budaya, geografis, dan kelembagaan masing-masing.
Kegiatan gelar wicara ini merupakan inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, yang dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Malinau dan mitra pembangunan INOVASI.
Dari wilayah perbatasan, lahir kisah-kisah sederhana penuh harapan yang menginspirasi Indonesia.® (red)
Sumber: Prokompim Malinau









































